Laman

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

Aku tidak punya mimpi!



            “Terima kasih atas bantuanmu Farhan, kau benar-benar sangat membantu pekerjaanku hari ini.” Pak Rusli mengusap peluh di keningnya. Memeras susu sapi tidak semudah kelihatannya. Membutuhkan teknik khusus, kita harus tahu kapan sapi siap untuk diperas, belajar memahaminya. Aku sampai senyum-senyum sendiri, ternyata binatang ingin dimengerti juga atas perasaannya. Bagaimana manusia yang notabene seringkali memakai hati dalam menghadapi hidup.
            “Sama-sama Pak, ini bukan apa-apa.” Sahutku sambil membersihkan tangan di westafel, peternakan sapi beliau sedikit banyak telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelumnya.
            “Aku harus pergi, senang sekali bisa membantumu hari ini.” Setelah mengeringkan tangan aku harus bergegas.
            “Nak, bawalah ini, jangan sungkan-sungkan.” Pak Rusli memaksaku untuk menerima sebotol susu segar. Aku terpaksa menerimanya.
            “Kau tidak perlu begitu.” Ucapku.
            “Ini bukan apa-apa Nak.” Balasnya sambil tersenyum, mengingatkanku akan perkataanku barusan, aku melangkah keluar dari peternakan sambil meneguk susu segar.
            +++
            Sangat menyenangkan bisa tinggal di kampung ini, sebuah tempat yanng berada persis di kaki bukit, rerumputan tumbuh subur menghijau sejauh mata memandang, udara dingin dengan suhu yang nyaman untuk ditinggali, belum lagi aliran mata air yang menghidupi pemukiman penduduk disekitarnya, mengairi ladang-ladang, menghidupi hewan ternak, tetumbuhan. Sungguh aku sangat beruntung berada disini.
            “Farhan, kemarilah! aku butuh bantuanmu.” Teman baikku Tamir memanggil, kepalaku menggeleng. Dia tahu aku lelah dan enggan untuk sedikit memaksaku.
            “Hmm, oke istirahatlah, jika tenagamu sudah kembali terisi mampirlah kerumahku.” Ia menepuk bahuku lalu pamit menjauh, Kubalas dengan anggukan kecil.
+++
            “Mimpi... kita semua bermimpi. Menjadi Insinyur, Dokter, bahkan Presiden. Lantas pertanyaannya, apa mimpimu nak?” seorang kakek tua bertanya padaku. Pertanyaan itu agak asing buatku. Mimpi? Aku terdiam cukup lama, lalu saat kucoba menggerakkan mulutku untuk menjawab. Lidahku tiba-tiba menjadi kaku! Seakan lidah ini terbuat dari potongan besi yang sudah dingin. Mataku hanya tertuju kepada kakek tua itu, sedang suasana tempat kami berbicara buram, seakan kami tidak berada dimanapun.
            “Kau tak mampu menjawabnya anakku? Kau tak tahu kenapa kau tak bisa menjawab? Karena kau tidak pernah bermimpi! Kau hanya melakukan, tanpa berfikir! Kau tak punya tujuan anakku. Bahkan kau lupa kapan terakhir kali kau bermimpi bukan?” kakek tua itu mengelus janggutnya yang beruban panjang, melihatku dengan tatapan nanar.
            “Sadarlah anakku, temukan jawaban atas pertanyaan sederhana ini.”
            Mataku terbuka, keringat sudah membanjiri sekujur tubuhku. Ini mimpi yang sangat aneh! Jika kupikir-pikir lagi. perkataan kakek itu benar juga. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku bermimpi di saat aku tidur. Selama ini aku hanya tidur tanpa bermimpi, lalu bangun dan kembali membantu penduduk kampung.  Aku lupa darimana asalku. Aku... apa sebenarnya tujuanku disini? Dan... siapa diriku sebenarnya?
+++
            Ruang tamu rumah Tamir sangat indah, design interiornya sederhana namun sekaligus memberikan kesan megah dan bersih. Aku membantunya saat ia membangun tempat tinggalnya. Juga tempat kami saat ini duduk. Kursi berbalut kulit asli. Sangat nyaman bagi siapapun tamu yang duduk.
            “Jika kau bertanya padaku siapa dirimu sebenarnya? aku tidak bisa menjawabnya.” Air muka Tamir berubah, aku bisa melihatnya.
            “Lantas kenapa aku bisa ada disini kawan?” aku meneguk teh yang tersaji di atas meja.
            “Aku menemukanmu di sisi sungai, kepalamu berdaah cukup banyak. Waktu itu sudah lama sekali. Mungkin karena sifat asalmu adalah sangat mencintai alam dan juga suka menolong. Hingga saat kau tersadar dari pingsan, kau sampai lupa dengan pertanyaan ini, karena saking sibuknya membantu warga kampung sini.” Tamir tersenyum mengenang memori yang ada di pikirannya, sedang aku tetap bingung. Jika kakek itu datang kembali dalam mimpiku, bagaimana aku akan menjawab pertanyaannya tentang mimpi?
            “Kawanku... coba jawab pertanyaanku. Apa kau sungguh peduli dengan masa lalumu? Apa kau sungguh peduli dengan hal yg tak pasti?” Tamir memegang bahuku.
            “Apakah mimpi itu suatu yang pasti?” aku malah balik bertanya.
            “Mimpi? Maksudmu cita-cita?”
            “Iya. Mimpi.. cita-cita, apapun itu? apakah itu nyata?” aku semakin bersemangat menyerangnya dengan pertanyaan ‘sederhana’ itu.
            “Hmm... itu, itu nyata Farhan. Senyata kau dan aku.”
            “Apakah setiap orang wajib untuk bermimpi? Mengapa aku tidak punya mimpi? Kau... aku tahu kau sangat ingin menjadi Arsitek, bahkan kedua tanganku ini menjadi saksi akan kerja kerasmu saat aku ikut membantumu. Pak Rusli, Beliau sangat ingin membuat peternakan sapinya maju, karena itu adalah mimpinya. Dengan tangan ini pula aku selalu membantu sapi-sapinya ketika beranak. Juga kampung ini, menjadi lebih indah dari sebelumnya. Karena kampung ini punya mimpi, warganya berambisi untuk mencapai sesuatu. Lantas aku? Aku hanya membantu Tamir! Karena aku tidak punya tujuan yang berarti!” nada bicaraku meninggi. Entah mengapa aku menjadi begini. Sangat tidak enak sebenarnya berbicara dengan cara seperti ini.
            “Aku tahu kau sedang gelisah Farhan, kau tak perlu marah. Tapi menurutku apa yang kau lakukan ini adalah sesuatu yng benar bukan? Kami sudah menganggapmu bagian dari kampung ini.” Ujar Tamir mencoba mengimbangi ucapanku.
            “Aku... aku pamit dulu, sampai nanti.” Dengan dada yang masih sesak akan pertanyaan-pertanyaan, aku bangkit dari tempat duduk tanpa menoleh lagi ke arahnya.
+++
            Jam tanganku menunjukkan pukul dua belas malam, cukup larut bagi orang yang sedang melamun sepertiku. Saung tengah sawah milik Kepala Desa yang biasa dipenuhi para penjudi kini sudah tidak ada lagi, mereka sudah menemukan kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada mengahabiskan uang mereka dengan berjudi, tinggallah aku sendiri disini, dulu aku yang mendukung Pak Kades untuk segera memberantas perjudian dan memberi alternatif pekerjaan bagi mereka saat musim paceklik. Entah dengan mengirim mereka ke kota untuk menjadi pembantu rumah tangga, buruh honorer, apapun itu yang bisa menghindarkan mereka dari berjudi. Kini mereka telah berubah, juga karena keinginan mereka sendiri. Dan aku... aku bahkan tak ingin tidur, karena takut saat aku tertidur aku bertemu kakek itu lagi dan tak bisa menjawab pertanyaannya. Saat lidahku kaku, itu benar-benar seperti nyata!
            “Farhan! Farhan!” kedengarannya bukan Cuma satu orang yang memanggilku, dari kejauhan terlihat nyala beberapa obor mendekatiku, sejurus kemudian baru terlihat puluhan orang sedang berlarian menghampiriku, Tamir berada di garis terdepan bersama pak Kades.
            “Kau ini kemana saja hah! kami seharian mencarimu!” belum pernah aku melihat Tamir semarah ini.
            “Apa yang sebenarnya terjadi nak? Kami semua khawatir.” Kali ini Pak Kades angkat bicara, sambil memegang obor ia mendekatiku.
            “Apa Bapak punya mimpi?” bibirku langsug saja mengajukan pertanyaan.
            “Yah.. tentu, mimpiku adalah bisa memimpin kampung ini ke arah yang lebih baik.” Dengan nada rendah dan pembawaan yang tenang, beliau sangat berwibawa.
            “Boleh aku bertanya padamu? Hmm, apa yang terlintas dipikiranmu saat membantu Pak Rusli mengurus peternakannya? Atau saat membantu temanmu Tamir merenovasi rumahnya? Memberi ide padaku saat musim paceklik waktu itu? apa yang ada dalam pikiranmu?” Pak Kades kembali bertanya.
            “Aku... aku hanya... aku yakin Kampung ini bisa menjadi lebih baik dari hanya sekedar berjudi di saung ini, menaruh pendidikan di urutan terakhir kebutuhan mereka, aku yakin kampung ini bisa berubah.” Airmataku menetes, bahkan aku tak merasa sedih sedikitpun.
            “Itulah impianmu Nak! Itulah mimpi paling mulia dibanding apapun!” Pak Kades menepuk bahuku.
            “Impian bukanlah sesuatu yang selalu kau sebut setiap hari, kau tempel di kamar besar-besar, impian bukan hanya sekedar kata nak, impian adalah perbuatan. Dan kau berhasil Nak, kau telah membantu mewujudkan impianku, impian para warga, kau adalah jembatan kami menuju mimpi-mimpi kami Farhan. aku sangat beruntung bisa bertemu orang sepertimu.” Pak Kades berbicara panjang lebar. Aku masih menangis, begitu juga Tamir. Kami menangis bahagia, aku akhirnya bisa menjawab pertanyaan kakek itu jika ia kembali datang ke dalam mimpiku. Dan juga aku menyadari satu hal, bahwa ketika seseorang tidak bisa menjawab saat di tanya apakah ia punya mimpi atau tidak? Bukan berarti mereka tidak punya mimpi. Tapi mungkin ia sedang meniti jalan menuju mimpi itu sendiri, tanpa mereka sadari. Dan orang yang membantu mewujudkan mimpi orang lain, adalah kebaikan yang sangat besar yang balasannya langsung disegerakan.
Bermimpilah! Dan bantu orang disekitarmu yang juga sedang bermimpi!
---the end---
           


Rabu, 02 Januari 2013

Semangat nyata, dari seseorang di dunia maya.


Pernahkah kalian merasa asing dirumah sendiri? atau pernahkah kalian merasa diasingkan secara tidak langsung oleh kerabat dekat kalian sendiri? Jika begitu maka kita sama. Inilah kehidupanku yang terlihat aneh. Aneh karena aku tidak bisa menjadi diriku yang sebenarnya dihadapan kerabat dekatku sendiri.
            “Papa seneng banget kalo melihat kakakmu belajar, berkutat dengan rumus, giat mencari jawaban atas soal-soalnya.” Sambil menyeruput kopi Papa mulai membicarakan topik itu lagi, topik yang sejak lama sangat kubenci.
            “Jadi Papa ngga seneng gitu kalo melihat aku bergelut dengan tulisan-tulisanku?” nada bicaraku yang hampir meninggi terpaksa kutahan, setidaknya Papa masih membuka percakapan ini dengan nada santai.
            “Papa seneng, tapi apa kamu ngga ngerasa kalo apa yang kamu kerjakan itu Cuma buang-buang tenaga aja?” kalimat jitu itu.. sungguh memancing nada tinggiku.
            “Oh.. kalo papa pikir apa yang aku kerjain ini Cuma buang-buang waktu, yaudah cuekin aja aku. Anggap aja aku ngga ada dirumah ini, Gampang kan!” kedua tanganku mengepal, kali ini aku tidak akan beranjak dari tempat dudukku dengan mudah tanpa melawannya.
            “Papa Cuma mau yang terbaik buat kamu, jadi penulis itu ga akan bisa bikin kamu kaya!” Papa menatapku nanar, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal karena sudah bukan waktunya lagi baginya untuk naik pitam.
            “Mengertilah nak, ayahmu sudah tidak muda lagi.” Suaranya memelan.
            “Dan mengertilah Pa, aku punya keahlianku sendiri, aku ga akan bisa jadi kayak Kak Anton dan begitu juga sebaliknya.” Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini kami sama-sama lelah, lelah membicarakan hal yang tak berujung. Papa memutuskan berdiam diri diruang tamu, aku segera berlari ke kamarku, menutup pintu dan mengusap pipiku yang basah.
+++
            Namaku Zetta, bungsu dari dua bersaudara. Kakakku bernama Anton, mahasiswa jurusan Management Universitas Negeri di kotaku. Bukan hal baru jika Papa selalu membanggakannya, entah itu didepan kolega-koleganya, didepan tetangga, bahkan pernah Papa mengigau sambil membanggakan putra sulungnya itu. beda umur kami hanya dua tahun, dua tahun yang kadang terasa amat jauh bila Papa sudah mulai membanding-bandingkan kami. Aku yang-hanya-mahasiswa bahasa indonesia universitas swasta harus banyak bersabar.
            Beruntung aku mengenal Bunda Ria, bagiku ia adalah sosok pengganti ibu yang amat mengerti diriku. Hubungan kami dimulai sejak aku bergabung dalam komunitas penulis online beberapa tahun silam, aku seperti menemukan sosok seorang ibu darinya. Nasihat-nasihatnya, kisah-kisah teladannya, motivasi-motivasinya tentang kepenulisan selalu menginspirasiku.   
“Bunda..” sapaku saat suara “hallo”nya menyapaku lebih dulu dari balik gagang telepon kamarku.           
“Kenapa Ta, suara kamu kaya orang habis nangis gitu?” suaranya begitu meneduhkan bahkan ketika didengar dari balik gagang telepon.
            “Apa salahnya sih jadi penulis? Aku bener-bener ngga ngerti sama pemikiran Papa, ngga adil banget!”
            “Ngga ada yang salah ko Zetta, kadang orangtua ingin anaknya lebih hebat dari mereka.” Bunda mencoba menjelaskan sekaligus meredam emosiku yang kembali terpancing.
            “Tapi ini kan memang kemampuanku, coba kalo kusuruh kak Anton bikin cerpen, dia juga ga bisa.”
            “Masalahnya ga sesederhana itu sayang, untuk saat ini kamu tunjukin ke Papa kamu kalo kamu bisa sukses, walau dari bakat yang Papa kamu anggap remeh. Oh iya, kamu lupa ya? Besok kan acara penganugerahan pemenang lomba cerpen nasional. Kamu juara tiga kan?” Bunda mengingatkanku akan undangan itu, undangan yang tadinya ingin kuserahkan kepada Papa namun urung, Papa terlanjur menghancurkan semuanya.
            “Hmm besok bunda aja yang wakilin orangtua aku, yayaya?” aku kembali bersemangat karena aku tahu Bunda pasti takkan menolak.
            “Iya sayang, bunda pasti wakilin. Udah dulu ya Zetta, Bunda ada urusan dulu, daah”
           
telepon langsung terputus, padahal aku belum sempat interupsi karena masih ingin ngobrol dengannya.
+++
            Pagi itu tepat pukul delapan pagi, saat mentari pagi masih kaya akan vitamin untuk kesehatan kulit. Seseorang datang mengetuk pintu rumahku. Seseorang yang hanya dengan mendengar suaranya saja bisa meredamkan emosiku, ia benar-benar menggantikan posisi mama yang wafat persis ketika aku berumur tiga tahun.
            “Bundaaaa.” Aku langsung memeluknya. Terakhir kali ia datang kerumahku saat aku terpaksa pulang larut karena pengumuman lomba cerpen yang ditunda hingga malam hari. Saat Papa membuka pintu dengan wajahnya yang tegang menahan amarah, Bunda membelaku habis-habisan. Kejadian itu benar-benar membekas diingatanku.
            “Kok pagi banget datangya?” aku mengajaknya memasuki rumah, lalu mempersilahkannya duduk.
            “Hmm pengen bikin kejutan aja. Selain itu Bunda juga mau ketemu sama papa kamu.” Bunda tersenyum, ia selalu bisa membuatku ikut tersenyum lewat senyumannya. Walaupun saat banyak masalah yang datang menghampiriku.
            “Ada yang bisa saya bantu mbak Ria?” Papa tiba-tiba datang, Bunda ikut berdiri menyambutnya, menjabat tangannya lalu duduk kembali saat Papa mempersilahkannya.
            “Tadi saya dengar anda mau bertemu saya, benar?” Papa kembali bertanya, tentu dengan suara berat khasnya.
            “Begini Pak, kali ini Zetta mendapatkan juara tiga lomba menulis cerpen tingkat nasional. Hari ini acara penganugerahannya. Saya harap Bapak mau menghadiri acara tersebut,” mataku tak berkedip, tak bisa berkata apa-apa melihat keberanian Bunda.
            “Bukannya selama ini anda yang biasa mewakili. Anda tahu kan saya..”
            “Tidak tertarik, ya.. saya tahu itu, tapi sampai kapan Bapak seperti ini. Membuat Zetta terus cemburu pada kakaknya karena perhatian Bapak yang lebih padanya. Zetta juga anak Bapak bukan? walaupun jelas berbeda dengan Kakaknya namun Zetta punya keahliannya sendiri. Kita tidak tahu kapan terakhir kali kita bisa menatap wajah anak kita pak, kita tidak bisa hidup selamanya, bisa saja nanti, esok, atau lusa. Bapak, saya, Zetta, semua umat manuisa bisa terbujur kaku kapan saja.” Muka Bunda memerah, aku tidak bisa menerka apa yang ada didalam benaknya. Suasana menjadi hening. Aku benar-benar tak menyangka Papa bisa secepat ini terhenyang, Diam dengan mata yang.. berkaca.
            “Papa.. Papa hanya tak mau nasibmu seperti Mamamu.” Suara beratnya kian nyata ditambah dengan memori menyesakkan itu. memori ketika Mama sedang sibuk meladeni penggemar novelnya yang minta tanda tangan. Saat itu kami ingin menyebrang jalan menuju Mall, namun para penggemar itu memaksa, hingga Mama lengah dan..
            “Itu semua sudah digariskan Pak, sudah menjadi kehendak-Nya, kapan dan dimana tepatnya. Jangan hanya karena memori menyakitkan itu Zetta yang menjadi kambing hitamnya. Itu tidak adil.” Bunda menghela nafas membiarkan Papa mencerna semua ucapannya.
            “Kamu memang benar-benar mirip dengannya nak. Maafkan Papa, selama ini berlaku tidak adil terhadapmu. Baiklah Papa akan menghadiri acara itu.” Papa tersenyum, setelah sekian lama yang kulihat adalah tatapan kosong akan karya-karyaku. Kini Papa tersenyum. Senyum itu benar-benar menghapus semua rasa sakit hatiku padanya.
            “Makasih ya Pa.” Aku buru-buru memeluk Papa, pelukan ini terasa begitu menenangkan, memusnahkan semua perdebatan kami, perbedaan pendapat kami, semua lebur terbakar oleh api cinta seorang Ayah pada anaknya.
            “Baiklah saya pamit dulu ya Pak. Banyak yang harus saya kerjakan.” Bunda kembali tersenyum, setelah berhasil membuatku dan Papa berbaikan.
            “Sebenarnya Bunda juga mau ijin karena ga bisa ngewakilin kamu, bunda harus nemenin suami Bunda yang lagi sakit.” Aku memakluminya, lagipula kali ini Papa sendiri yang akan menghadiri acara penganugerahan itu.
            “Bunda, ungkapan terimakasih ini akan terus kulantunkan, sepanjang hayat berada di dalam jasad ku.” Batinku.

Hal terindah yang tak terlihat


 “Kata orang, dunia itu sangat indah. Gunung-gunung terlihat elok saat diselimuti awan dan kabut dingin. Laut yang membentang biru layaknya permadani maha luas. Belum lagi satwa-satwanya, gedung-gedung tingginya, semuanya. Kau beruntung bisa melihatnya.” Ucapku sambil tersenyum, entah apakah lawan bicaraku ini sedang mengeluarkan ekspresi apa di wajahnya.
“Oh maaf, kukira kau bisa melihat, lantas bagaimana kau bisa melantunkan kalimat-kalimat di dalam kitab sucimu dengan bagus sekali?” kudengar isak tangisnya sedikit berkurang.
“Kitab ini khusus untuk orang-orang yang punya kelebihan sepertiku.” Aku menyeringai, bisa kutebak ia pasti tersenyum dengan gurauanku.
“Yah, kau memang punya kelebihan. Mana ada orang yang bisa melihat dengan ujung-ujung jarinya jika orang itu bukan kau.” Kami tertawa lepas.
Namanya Tasya. Aku tidak akan bisa mendeskripsikan bagaimana rupanya. Yang ku tahu ia orang yang baik. Setidaknya satu banding entahlah, orang yang mau memberi seorang tuna wisma dan tunanetra makanan dan ngobrol panjang lebar. Kukira jarang sekali. Kami sering bertemu disini, di pelataran Rumah Ibadah yang secara tidak langsung menjadi rumahku.
“Boleh kubertanya sesuatu?” aku menelan ludah.
“Ya, tentu.”
“Kenapa kau sering sekali menangis?” gelak tawanya perlahan sirna. Seakan gurauanku barusan tidak pernah kuucapkan.
“Aku.. hmm.. ya biasalah namanya juga wanita yang sering putus nyambung dengan pacarnya. Pasti menangis.”
“Apakah selalu saat sepertiga malam seperti ini kalian bertengkar?” aku tidak bisa bernegosiasi lagi dengan rasa penasaranku.
“I..iya, dia pekerja keras, sering pulang larut malam.Dia juga tipe lelaki yang saat ia marah atau kesal maka saat itu juga harus dikeluarkan segala unek-uneknya. aku lebih sering mengalah dan... menangis.” Tangan kami beradu saat kami sama-sama ingin mengambil potongan kue yang dibawanya.
“Maaf, kau saja duluan yang ambil kuenya, aku kan punya kelebihan, jadi tidak tahu kalau tanganmu ada disana.” Kami tertawa lagi. Pelataran Rumah Ibadah ini menjadi agak berbeda bagiku sejak kemunculannya yang misterius.
+++
Menurut perhitunganku, sudah dua bulan kami saling kenal, entah mengapa pertanyaan-pertanyaan aneh itu muncul begitu saja dalam benakku. Tentang asal-usulnya, apa pekerjaannya, dimana sebenarnya rumahnya. Pertanyaan yang jelas-jelas biasa saja namun menurutku tetap saja aneh. Untuk apa aku ingin sekali tahu akan itu? seakan-akan aku ini orang kebanyakan. Aku ini buta, dan juga tidak punya tempat tinggal, jika penjaga Rumah Ibadah ini ingin mengusirku tentu bisa saja. Aku jadi gelandangan yang beralaskan lantai Ruko-Ruko, saat pagi menjelang pemiliknya tentu membangunkanku seperti membangunkan anjing. Lantas mengapa bisa aku menjadi sepenasaran ini, sebelum ini rasa-rasanya aku tidak pernah.
“Hei, kau pasti belum makan kan? Nih, silahkan dicoba.” Tasya, wanita itu datang lagi, namun kali ini tidak selarut sebelum-sebelumnya. Kurasa hari belum terlalu larut.
“Hmm... aku belum pernah makan yang seperti ini, rasanya seperti mie, tapi entahlah, lebih lembut dan enak.” Alisku beradu, sungguh makanan ini lezat sekali.
“Hahaha, ini namanya pasta, atau spagetti. Sungguh kau belum pernah mencobanya?” aku mengangguk meyakinkannya.
“Kau baik-baik saja kan?” tanyaku setelah menelan suapan terakhir makanan darinya.
“Maksudmu?”
“Ya... apa kau baik-baik saja, kudengar suaramu tidak serak, apa kau dan pacarmu tidak sedang bertengkar?”
“Oh.. ya begitulah, kami sedang baik-baik saja.”
“Tasya, boleh kubertanya? Dan maaf kalau agak pribadi” rasa penasaran ini seperti gatal yang harus cepat-cepat di garuk.
“Hmm tentu boleh, kau kan sudah sering menjadi tempat curhatku.”
“Kau kerja dimana? dan apa jabatanmu disana?” entah mengapa debaran jantungku sampai terasa hingga ke pipi. Mengapa pertanyaan ini menjadi amat menegangkan saat ditanyakan?
“Mengapa kau bertanya begitu?” degh! ini kali pertama ia balas bertanya tanpa menjawab. Justru itu membuatku terdiam, rasa makanan di lidahku sudah tak terasa lagi. menjadi getir begitu saja.
“Oh.. tidak apa-apa, hmm... aku hanya bertanya. Kita teman kan, teman seharusnya saling tahu satu sama lain.” Aku gugup menjawabnya.
“Apa aku pernah bertaya asal-usulmu? Apa aku pernah bertanya kenapa kau ada disini, di Rumah Ibadah ini? Apakah itu penting? Kenapa asal-asulku menjadi seakan penting bagimu? Karena menurutku itu semua tidak penting!” suaranya meninggi, entah apakah ada orang yang melihat percakapan kami atau tidak. Kudengar ia beranjak berdiri, saat kumemanggilnya ia sudah tidak menyahut. Ini di luar  prediksiku. Rasa penasaran ini bukan lagi seperti gatal yang harus digaruk, tapi berubah seperti rasa sesak di dada. Tasya... siapa kau sebenarnya?
+++
Di sepertiga malam aku kembali terbangun seperti biasa. Menghirup udara malam yang dingin menusuk hingga ke dalam tulang. Tanganku meraba lantai, bungkus makanan dari Tasya masih tergeletak, tanganku meraba-raba mencoba merapihkannya dan menaruhnya didekatku. Memegangnya satu persatu untuk memastikan bentuknya. piring stereopom, garpu plastik, dan... entah apa ini, seperti kertas karton berbentuk persegi panjang, apa mungkin KTP? Rasa-rasanya tidak ada orang waras yang menaruh KTP nya di dalam kantong plastik makanan. Ku pisahkan benda itu, semoga ini ada kaitannya dengan Tasya.
+++
Ini harus diselesaikan, setidaknya aku harus membuat rasa penasaranku terpuaskan. Keempat inderaku masih berfungsi baik, seperti tanganku yang bisa merasakan hangat mentari pagi ini. Suara langkah itu amat kukenal, penjaga Rumah Ibadah.
“Pak, permisi, saya mau bertanya sebentar.” Aku segera berdiri dan mengeluarkan benda itu.
“Ini kira-kira apa ya pak?” aku menunjukkan benda itu kepadanya, ia terdiam beberapa saat.
“Oh ini seperti kartu nama mas, dari Hotel D’LLOYD.” Jawabnya ringan.
“Hotel?” seketika pikiranku disesaki oleh satu nama: Tasya, sialnya dia tidak menjawab pertanyaanku semalam, membuat prasangka burukku semakin menjadi-jadi. Setelah berterimakasih kepada penjaga Rumah Ibadah aku bergegas meraih tongkatku dan berjalan menuju hotel tersebut. Jaraknya cukup dekat dari Rumah Ibadah.
+++
“Permisi pak, bisa bertemu dengan orang yang namanya tercantum di kartu nama ini?” tanyaku pada Satpam yang berjaga di depan gerbang Hotel tersebut.
“Wah mas, ini mah pemilik hotel ini. Dia sibuk lah pasti.” Jawabnya ringan, aku bisa menangkap nada tertawanya yang ditahan. Aku terdiam sejenak, mencoba mengolah semuanya. Mengapa kartu nama pemilik perusahaan itu bisa ada di kantok plastik makanan Tasya? Apa mungkin beliau Bos Tasya? Tapi jika benar, mengapa Tasya tidak menyimpan kartu nama itu di dompetnya? harusnya kartu nama itu penting baginya. Sial! Aku benar-benar dibuat pusing. Ketika aku mulai sadar dari lamunanku –yang menyebalkan itu- aku berlalu begitu saja. Membiarkan Satpam mengumpat pelan.
+++
  Sejak salah paham antara kami terjadi, Tasya tidak lagi menemuiku, dia seperti tidak ada dalam lingkungan sekitar tempatku berada. Hilang begitu saja. ini menjadi moment kehilangan terpedih kedua setelah Panti Asuhan tempatku tinggal sebelumnya terbakar, semua hangus, yang tersisa hanya aku yang pada saat itu sedang mengikuti lomba membaca kitab suci. Aku pun kembali menjalani hidupku, bahkan tak lama kemudian aku ditunjuk sebagai penjaga Rumah Ibadah karena Penjaga sebelumnya meninggal dunia. Penglihatanku memang gelap, namun selebihnya terang benderang melebihi dugaanku.
“Hei...” suara itu, aku terperanjat dan langsung bangkit dari tidurku. Pelataran Rumah Ibadah terdengar sepi. Desau angin semilir menyentuh tubuhku. Hari belum gelap.
“Tasya?” lirihku.
“Maaf, kemarin aku meninggalkamu begitu saja.” suaranya pelan, terlalu pelan untuk seseorang yang masih memiliki hutang misteri jati dirinya.
“Kau kemana saja? apa spagetti kemarin seperti sogokan agar aku bisa terima kau tinggal begitu saja?” seluruh ingatan tentang kartu nama, hotel dan pemiliknya, semuanya sudah rampung terekam kembali dalam otakku.
“Oke, akan kujelaskan, aku bekerja di sebuah biro periklanan, jabatanku sekretaris.” Nada suaranya terdengar gugup. Apa dia berbohong? Ah.. andai saja aku bisa melihatnya.
“Sekarang kau bisa menjelaskan ini?” kujulurkan tanganku yang berisi kartu nama.
“Itu... bagaimana kau bisa menemukan kartu nama itu?”
“Dari kantong plastik makananmu, dia?”
“Dia pacarku, dia yang sering kubicarakan padamu.”
“Pacarmu? dulu kau bilang pacarmu itu pekerja keras dan sering pulang malam, mustahil seorang pemilik hotel pulang larut hanya emi pekerjaan, ia pasti bisa menyurh anak buahnya menegrjakan semua tugas-tugasnya. itu pacarmu yang keberapa? Sepuluh? Dua puluh?” akhirnya rasa penasaranku mendapatkan apa yang ia inginkan: jawaban.
“Oke.. fine! Dia bukan pacarku, dia juga bukan siapa-siapa.” Suaranya kini bergetar. Kurasa suara bergetarnya karena amarah yang tertahan cukup lama.
“Lalu siapa kau sebenarnya?” nada suaraku meninggi, juga karena rasa penasaran yang terendap cukup lama.
“Aku... aku adalah penjual kesucian, kau pasti tahu maksudku.” Dia berkata dengan suara pelan, namun sakit hatinya terlalu dalam, hingga untuk marah pun kurasa dia tak bisa, tidak ada hal yang paling menyedihkan dibanding apa yang baru saja dia rasakan, sehingga menangis adalah satu-satunya pilihan yang ada.
“Jadi selama ini?” biarlah pertanyaanku ini menjadi api yang membakar sumbu kemarahannya yang terendap.
“Ya.. tepat sekali! Selama ini kau berteman dengan PELACUR! Semua yang telah kuberikan padamu, makanan-makanan itu, semua haram! Kau benar sekali, PUAS!”
“Bukan itu maksudku, jadi selama ini yang kau ceritakan itu bukan pacarmu, tapi para pelangganmu? Saat kau disiksa dan..”
“Tepat sekali, mereka menamparku, memukul, menjambak, apapun yang bisa memuaskan nafsu binatang mereka.” Ia makin terisak, suaranya sungguh membuat siapapun yang mendengar merasa iba.
“Kau pasti sangat cantik. Bahkan aku tidak perlu menggunakan mata untuk dapat melihat kecantikanmu” Tanganku mencoba meraih lengannya, lalu bergerak pelan ke pundaknya.
            “Tasya, aku tahu kau sangat ingin keluar dari lubang neraka itu, dan aku pun tahu itu butuh waktu dan keberanian. Aku akan selalu ada untukmu. Akan kupastikan itu.” aku tersenyum. Bagiku satu jiwa yang tersadar dari kesesatan harganya sangat mahal sekali dimata Tuhan.
            “Terima kasih, terima kasih untuk segalanya.” Ucapnya lirih. Dan aku tahu ia pasti sedang tersenyum saat ini.