Laman

Sabtu, 19 April 2014

pengertian E-Commerce

Apa yang dimaksud E-commerce? E-commerce adalah electronic commerce, merupakan kumpulan teknologi, aplikasi, dan bisnis yang menghubungkan perusahaan atau perseorangan sebagai konsumen untuk melakukan transaksi elektronik, pertukaran barang, dan pertukaran informasi melalui internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya.
Kegiatan e-commerce ini merupakan aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berhubungan dengan transaksi komersial, misalnya: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), pemasaran online (online marketing), atau e-pemasaran (e-marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), dll.
Demikian penjelasan mengenai Pengertian E-commerce. Semoga pengertian e-commerce diatas dapat bermanfaat.

(sumber: http://temukanpengertian.blogspot.com)

Kamis, 24 Januari 2013

liburan ke "dunia Fantasi"

liburan ke tempat itu boleh jadi cuma mimpi kali ya buat gue, bayangin aja. masuknya aja 250ribu! mendingan gue beliin novel semua tuh duit, but... kerjaan nyokap ngadain liburan bareng dari kerjaannya, jadilah mimpi itu menjadi nyata (tanpa diharapkan) hehehe...

ini foto waktu pas erangkat. (masih rapi!) :D




perjalanan kurang lebih setengah jam... adek gue paling excited, dan bawaan gue di dalam tas itu penuh banget, berasa mau ke Mahameru aja dah --__--.

dan ini foto saat kami sekeluarga masuk. *keluarga bahagia, sayang gue ngga bisa nongol di layar.





sesuai apa yang gue liat di iklan, wahana-wahanya lengkap dan menantang... salah satunya ya ini ---> gue cuma bisa TERIAK, TERIAK, dan TERIAAAAAAAAAAAAAK!

setelah itu, kami naik niagara, lo harus liat muka pucat pasi adek gue!
haha.... dan wahan lain yang ngga bisa gue kasih potonya, )karena cuma gue yang naek).
dan satu pesan buat dufan... YOU ROCK!!





Senin, 21 Januari 2013

The Avengers "Loki yang di tukar"


The Avengers “Loki yang di tukar”
            Di dalam sebuah ruangan yang sangat megah, empat orang jagoan kelas dunia itu sedang berbincang-bincang, menara yang menjulang tinggi milik Tony Stark menjadi tempat mereka hang-out bareng-bareng, seperti lima sahabat dalam film 5cm, bedanya mereka memiliki tampilan yang aneh-aneh, seperti Tony dengan baju besinya, Hulk dengan tubuh hijau dan tinggi besar, hawkeye dengan busur panahnya yang setia melebihi rexona (duilee ngiklan!) serta Steve Rogers yang lagi-lagi memakai baju dan celana ketat ala senam aerobik. Menara tinggi itu menjadi saksi segalanya, saksi saat mereka beraksi menumpas kejahatan, sampai-sampai mereka mempunyai nama samaran masing-masing, Tony dipanggil menara 1, Hulk menara 2, hawkeye menara 3 dan Steve menara 4. Mereka berjanji saat keluar dari Pondok Pesantren Madani mereka akan mengejar mimpi-mimpi mereka (lah ini mah script negeri lima 5 menara! -_-).
            “Ton, bete nih, begini begini doang masa hidup gue jadinya” ujar Hawkeye sambil manyun ngelapin busur panahnya. Dia sangat bete karena semenjak Loki pergi, tidak ada terget yang bisa ia panah, dia hanya bisa memanah burung, rusa, dan asmara (yang terakhir jangan dipikirkan).
            “Makanya kalo ngga mau bete, banyakin gebetan!” tandas Tony yang beberapa detik kemudian dihadiahi sambitan sepatu hak tinggi dari Pepper Potts yang sedang menyiapkan kopi di sudut biru(eh maksudnya disudut ruangan.)
            “Aduh! Jangan ngambek dong yank, mereka kan Cuma gebetan, di hatiku Cuma ada kamu.” Tony mencabut sepatu hak tinggi milik kekasihnya yang nancep di kepalanya (sadis!).
            “HAHAHAHA PARAH BANGET LO POTTS” suara menggelegar Hulk membuat semua yang mendengarnya menutup telinga.
            “Woi jangan gila dong lo! Suara gede banget, lagian lo tuh ngga bisa ya ngontrol diri? jangan dikit-dikit jadi ijo! kesenggol panah gue sedikit jadi ijo, di katain sama bocah hulk gila hulk gila (kalo di indonesia: bewok gila u a u bewok gila, ngeledekin barongan.) jadi ijo!” Hawkeye sewot.
            “Teman-teman! Tenanglah, kenapa jadi ribut seperti ini? Saya tidak bisa konsentrasi!” Steve angkat bicara setelah dari tadi berkutat dengan TTS.
            “Hmm, iya iya Steve, take it easy boy, udah lumayan lama hidup di jaman modern, bahasa lo teteeeeep aje jadul, et dah heran gue.” Tony komplain dengan aksen betawinya yang kental (what the...)
            “Mana Black widow belum nongol-nongol lagi nih.” Hawkeye teringat dengan gebetannya. Semenjak mereka bersama dalam grup avenger ini, bunga-bunga cinta mulai bersemi di hati Hawkeye.
            “CIAT CIAT CIAT!!! ADA YANG KANGEN NIH YEEE HAHAHA.” Hulk tertawa, membuat ruangan bergetar dan beberepa gelas pecah.(yang sabar yah Tony(^__^)9).
            “BERISIIIIK!”Hawkeye memanah Hulk dengan panah peledak.
            Tiba-tiba suara petir terdengar cetaaar menggelegar dan membahana! Tanda bahwa akan datang seseorang yang amat mereka kenal.
            “Hmmm, akhirnya detang juga nih anak gledek. Lama amat sih lo nganterin si Loki ke Asgard?” Tony kembali berceloteh.
            “Eh.. manusia besi karatan! Lo kira perjalanan dari sini ke asgard kaya dari amerika ke kanada? Jauuuuuh kaleee.” Sahut Thor ikutan kesel. (gaya bicaranya sudah lumayan santai, tidak baku seperti di film.)
            “Nih kopi nya, sekarang ada luwak white kopi. Aman buat lambung!” Pepper Potts datang dengan membawa beberapa kopi.
            “Ssst jangan sebut merek nape,” Tony langsung ambil tindakan.
            “Lah ini kan sponsor kita Tony, Fanfic ini kan disponsori oleh Luwak white kopi dan Top kopi.” Potts tersenyum penuh arti.
            “yayaya sengganya slogan kopi ini ngga bongkar bongkar dan bongkar dah -_-“ Tony langsung bete.
            “Eh ada Thor, mau minum kopi apa teh manis?” tawar Potts.
            “Hmm...ngga usah, makasih deh.” Muka Thor terlihat muram sejak awal kedatangannya.
            “Hei Thor, kenapa kau bermuram durja anak muda?” Steve menutup TTS nya. Nyerah karena yang berhasil dia jawab Cuma no.2 menurun 7 kotak: salahsatu sponsor dari fanfic Avengers, tentu saja TOP KOPI.
            “Ada berita buruk nih guys.” Thor mendesah.
            “APAAN TUH BERITA buruknya?” Hulk sudah mulai mengecil, suaranya pun sudah tidak sebesar tadi.
            “Loki tobat bro.” Ucap Thor lalu disambut dengan...
            “APA?” Tony sampai tidak jadi menyeruput kopinya.
            “APA?” hawkeye menjatuhkan busur panah kesayangannya dengan tidak sengaja.
            “APA?” Steve meremas TTS nya.
            “APAAA?” dan Hulk pun kembali menjadi hijau. (cape deh, baru juga singset -_-)
            “apa ngga cukup ya gue bilangin sekali, reaksinya ngga ada yang laen dah.” Thor malah sempet sempetnya masang muka bete, bukannya tegang.
            “yah kalo Loki tobat, kerjaan kita sekarang apa dong?” Hawkeye mendesah, duduk lemas sambil kembali memeluk busur panahnya.
            “itu dia, makanya gue bilang ini berita buruk, ngga ada artinya lagi deh hidup kita sebagai pahlawan.” Thor melepaskan ikat kepalanya. Rambutnya yang panjang terurai indah (Laaaaaah?)
            “Apa artinya pahlawan tanpa ada penjahat, kita ini sebenernya kayak dua sisi mata uang, yang sebenernya saling membutuhkan.” Steve merapihkan TTS nya yang tadi ia remas.
            “Hmm... Aha! Gue puya ide nih!” Tony langsung berdiri.
            “Eh sayang, ngga boleh nyebut merek ah, modem Aha! Kan bukan sponsor kita.” Omongan Ppotts paling ngaco dibanding yang lain.
            “Maksud gue bukan Aha! Merek modem Potts (“wT___T)w” Tony nangis bombai sambil ngegarukin karpet.
            “TERUS APA DONG?” Hulk yang udah terlanjur jadi gede, ngga bisa mempercepat laju bicaranya.
            “Sini gue bisikin.” Mereke akhirnya berkumpul membuat lingkaran kecil, sambil mendekatkan kepala untuk berunding. (duilee rahasia nih yee)
---bersambung---
           

Sabtu, 19 Januari 2013

Aku tidak punya mimpi!



            “Terima kasih atas bantuanmu Farhan, kau benar-benar sangat membantu pekerjaanku hari ini.” Pak Rusli mengusap peluh di keningnya. Memeras susu sapi tidak semudah kelihatannya. Membutuhkan teknik khusus, kita harus tahu kapan sapi siap untuk diperas, belajar memahaminya. Aku sampai senyum-senyum sendiri, ternyata binatang ingin dimengerti juga atas perasaannya. Bagaimana manusia yang notabene seringkali memakai hati dalam menghadapi hidup.
            “Sama-sama Pak, ini bukan apa-apa.” Sahutku sambil membersihkan tangan di westafel, peternakan sapi beliau sedikit banyak telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding sebelumnya.
            “Aku harus pergi, senang sekali bisa membantumu hari ini.” Setelah mengeringkan tangan aku harus bergegas.
            “Nak, bawalah ini, jangan sungkan-sungkan.” Pak Rusli memaksaku untuk menerima sebotol susu segar. Aku terpaksa menerimanya.
            “Kau tidak perlu begitu.” Ucapku.
            “Ini bukan apa-apa Nak.” Balasnya sambil tersenyum, mengingatkanku akan perkataanku barusan, aku melangkah keluar dari peternakan sambil meneguk susu segar.
            +++
            Sangat menyenangkan bisa tinggal di kampung ini, sebuah tempat yanng berada persis di kaki bukit, rerumputan tumbuh subur menghijau sejauh mata memandang, udara dingin dengan suhu yang nyaman untuk ditinggali, belum lagi aliran mata air yang menghidupi pemukiman penduduk disekitarnya, mengairi ladang-ladang, menghidupi hewan ternak, tetumbuhan. Sungguh aku sangat beruntung berada disini.
            “Farhan, kemarilah! aku butuh bantuanmu.” Teman baikku Tamir memanggil, kepalaku menggeleng. Dia tahu aku lelah dan enggan untuk sedikit memaksaku.
            “Hmm, oke istirahatlah, jika tenagamu sudah kembali terisi mampirlah kerumahku.” Ia menepuk bahuku lalu pamit menjauh, Kubalas dengan anggukan kecil.
+++
            “Mimpi... kita semua bermimpi. Menjadi Insinyur, Dokter, bahkan Presiden. Lantas pertanyaannya, apa mimpimu nak?” seorang kakek tua bertanya padaku. Pertanyaan itu agak asing buatku. Mimpi? Aku terdiam cukup lama, lalu saat kucoba menggerakkan mulutku untuk menjawab. Lidahku tiba-tiba menjadi kaku! Seakan lidah ini terbuat dari potongan besi yang sudah dingin. Mataku hanya tertuju kepada kakek tua itu, sedang suasana tempat kami berbicara buram, seakan kami tidak berada dimanapun.
            “Kau tak mampu menjawabnya anakku? Kau tak tahu kenapa kau tak bisa menjawab? Karena kau tidak pernah bermimpi! Kau hanya melakukan, tanpa berfikir! Kau tak punya tujuan anakku. Bahkan kau lupa kapan terakhir kali kau bermimpi bukan?” kakek tua itu mengelus janggutnya yang beruban panjang, melihatku dengan tatapan nanar.
            “Sadarlah anakku, temukan jawaban atas pertanyaan sederhana ini.”
            Mataku terbuka, keringat sudah membanjiri sekujur tubuhku. Ini mimpi yang sangat aneh! Jika kupikir-pikir lagi. perkataan kakek itu benar juga. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku bermimpi di saat aku tidur. Selama ini aku hanya tidur tanpa bermimpi, lalu bangun dan kembali membantu penduduk kampung.  Aku lupa darimana asalku. Aku... apa sebenarnya tujuanku disini? Dan... siapa diriku sebenarnya?
+++
            Ruang tamu rumah Tamir sangat indah, design interiornya sederhana namun sekaligus memberikan kesan megah dan bersih. Aku membantunya saat ia membangun tempat tinggalnya. Juga tempat kami saat ini duduk. Kursi berbalut kulit asli. Sangat nyaman bagi siapapun tamu yang duduk.
            “Jika kau bertanya padaku siapa dirimu sebenarnya? aku tidak bisa menjawabnya.” Air muka Tamir berubah, aku bisa melihatnya.
            “Lantas kenapa aku bisa ada disini kawan?” aku meneguk teh yang tersaji di atas meja.
            “Aku menemukanmu di sisi sungai, kepalamu berdaah cukup banyak. Waktu itu sudah lama sekali. Mungkin karena sifat asalmu adalah sangat mencintai alam dan juga suka menolong. Hingga saat kau tersadar dari pingsan, kau sampai lupa dengan pertanyaan ini, karena saking sibuknya membantu warga kampung sini.” Tamir tersenyum mengenang memori yang ada di pikirannya, sedang aku tetap bingung. Jika kakek itu datang kembali dalam mimpiku, bagaimana aku akan menjawab pertanyaannya tentang mimpi?
            “Kawanku... coba jawab pertanyaanku. Apa kau sungguh peduli dengan masa lalumu? Apa kau sungguh peduli dengan hal yg tak pasti?” Tamir memegang bahuku.
            “Apakah mimpi itu suatu yang pasti?” aku malah balik bertanya.
            “Mimpi? Maksudmu cita-cita?”
            “Iya. Mimpi.. cita-cita, apapun itu? apakah itu nyata?” aku semakin bersemangat menyerangnya dengan pertanyaan ‘sederhana’ itu.
            “Hmm... itu, itu nyata Farhan. Senyata kau dan aku.”
            “Apakah setiap orang wajib untuk bermimpi? Mengapa aku tidak punya mimpi? Kau... aku tahu kau sangat ingin menjadi Arsitek, bahkan kedua tanganku ini menjadi saksi akan kerja kerasmu saat aku ikut membantumu. Pak Rusli, Beliau sangat ingin membuat peternakan sapinya maju, karena itu adalah mimpinya. Dengan tangan ini pula aku selalu membantu sapi-sapinya ketika beranak. Juga kampung ini, menjadi lebih indah dari sebelumnya. Karena kampung ini punya mimpi, warganya berambisi untuk mencapai sesuatu. Lantas aku? Aku hanya membantu Tamir! Karena aku tidak punya tujuan yang berarti!” nada bicaraku meninggi. Entah mengapa aku menjadi begini. Sangat tidak enak sebenarnya berbicara dengan cara seperti ini.
            “Aku tahu kau sedang gelisah Farhan, kau tak perlu marah. Tapi menurutku apa yang kau lakukan ini adalah sesuatu yng benar bukan? Kami sudah menganggapmu bagian dari kampung ini.” Ujar Tamir mencoba mengimbangi ucapanku.
            “Aku... aku pamit dulu, sampai nanti.” Dengan dada yang masih sesak akan pertanyaan-pertanyaan, aku bangkit dari tempat duduk tanpa menoleh lagi ke arahnya.
+++
            Jam tanganku menunjukkan pukul dua belas malam, cukup larut bagi orang yang sedang melamun sepertiku. Saung tengah sawah milik Kepala Desa yang biasa dipenuhi para penjudi kini sudah tidak ada lagi, mereka sudah menemukan kegiatan yang lebih bermanfaat dari pada mengahabiskan uang mereka dengan berjudi, tinggallah aku sendiri disini, dulu aku yang mendukung Pak Kades untuk segera memberantas perjudian dan memberi alternatif pekerjaan bagi mereka saat musim paceklik. Entah dengan mengirim mereka ke kota untuk menjadi pembantu rumah tangga, buruh honorer, apapun itu yang bisa menghindarkan mereka dari berjudi. Kini mereka telah berubah, juga karena keinginan mereka sendiri. Dan aku... aku bahkan tak ingin tidur, karena takut saat aku tertidur aku bertemu kakek itu lagi dan tak bisa menjawab pertanyaannya. Saat lidahku kaku, itu benar-benar seperti nyata!
            “Farhan! Farhan!” kedengarannya bukan Cuma satu orang yang memanggilku, dari kejauhan terlihat nyala beberapa obor mendekatiku, sejurus kemudian baru terlihat puluhan orang sedang berlarian menghampiriku, Tamir berada di garis terdepan bersama pak Kades.
            “Kau ini kemana saja hah! kami seharian mencarimu!” belum pernah aku melihat Tamir semarah ini.
            “Apa yang sebenarnya terjadi nak? Kami semua khawatir.” Kali ini Pak Kades angkat bicara, sambil memegang obor ia mendekatiku.
            “Apa Bapak punya mimpi?” bibirku langsug saja mengajukan pertanyaan.
            “Yah.. tentu, mimpiku adalah bisa memimpin kampung ini ke arah yang lebih baik.” Dengan nada rendah dan pembawaan yang tenang, beliau sangat berwibawa.
            “Boleh aku bertanya padamu? Hmm, apa yang terlintas dipikiranmu saat membantu Pak Rusli mengurus peternakannya? Atau saat membantu temanmu Tamir merenovasi rumahnya? Memberi ide padaku saat musim paceklik waktu itu? apa yang ada dalam pikiranmu?” Pak Kades kembali bertanya.
            “Aku... aku hanya... aku yakin Kampung ini bisa menjadi lebih baik dari hanya sekedar berjudi di saung ini, menaruh pendidikan di urutan terakhir kebutuhan mereka, aku yakin kampung ini bisa berubah.” Airmataku menetes, bahkan aku tak merasa sedih sedikitpun.
            “Itulah impianmu Nak! Itulah mimpi paling mulia dibanding apapun!” Pak Kades menepuk bahuku.
            “Impian bukanlah sesuatu yang selalu kau sebut setiap hari, kau tempel di kamar besar-besar, impian bukan hanya sekedar kata nak, impian adalah perbuatan. Dan kau berhasil Nak, kau telah membantu mewujudkan impianku, impian para warga, kau adalah jembatan kami menuju mimpi-mimpi kami Farhan. aku sangat beruntung bisa bertemu orang sepertimu.” Pak Kades berbicara panjang lebar. Aku masih menangis, begitu juga Tamir. Kami menangis bahagia, aku akhirnya bisa menjawab pertanyaan kakek itu jika ia kembali datang ke dalam mimpiku. Dan juga aku menyadari satu hal, bahwa ketika seseorang tidak bisa menjawab saat di tanya apakah ia punya mimpi atau tidak? Bukan berarti mereka tidak punya mimpi. Tapi mungkin ia sedang meniti jalan menuju mimpi itu sendiri, tanpa mereka sadari. Dan orang yang membantu mewujudkan mimpi orang lain, adalah kebaikan yang sangat besar yang balasannya langsung disegerakan.
Bermimpilah! Dan bantu orang disekitarmu yang juga sedang bermimpi!
---the end---
           


Rabu, 16 Januari 2013

1 Februari 2001


Surat menjadi ikon saat itu, semua selalu berkirim surat. Baik jarak dekat ataupun jauh, Telepon genggam saat itu masih menjadi barang langka. Tak terkecuali diriku yang saat ini masih berkutat didepan sebuah kertas putih kosong, ini adalah kertas putihku yang ke lima belas, sementara empat belas lainnya berserakan di lantai, penuh dengan coretan tulisan yang menurutku kurang tepat untuk disampaikan kepada seorang gadis.
            “fokus!” ujarku menyemangati diri. Ini bukan kali pertama. Namun entah menagpa ini yang paling sulit. Sejenak kusingkirkan kertas putih itu ke pojok meja belajarku. Menghela nafas dalam-dalam dan kembali mengulang semua, ya... memutar ulang semua memoriku tentangnya.
+++
            Saat kusebutkan kata ‘Gedung Sekolah SMA’, apa yang ada dalam pikiran kalian? Gedung tua yang hampir runtuh? Atau sebaliknya, bangunan maha luas dan fasiltas lengkap? Jika bagimu seperti itu baiklah, bayangkanlah seperti itu. tapi bagiku ingatan tentang sekolah adalah ingatan tentang dia. Bukan pelajaran, guru-guru galak, satpam sekolah yang garang saat kita telat. Atau pun solidaritas antar teman. Bagiku ini tentang dia.
            “Fin... udah sih relain aja kenapa?’ ujar Bias sambil menyeruput es teh pesanannya, ruang kelas saat jam istirahat bisa berubah fungsi menjadi kantin, banyak murid yang makan di kelas.
            “Relain apanya? Jangan sok tau deh lo.” Aku pun kembali meneruskan bacaanku yang terhenti karena pertanyaannya. “Kahlil Gibran: sayap-sayap patah”.
            “Ya ampun! dikira gue ngga tau apa, dari kelas satu SMA Fin gue jadi temen lo, sampe hafal gue buku apaan aja yang udah lo baca. pake belaga bego lagi, lo suka kan sama Ayu?”
            “Emang kenapa kalo misalnya gue suka sama dia? Ngga ada larangannya kan?” mataku tetap tertuju ke ‘Kahlil Gibran’, rasanya malas sekali menatap wajah teman yang sedang kecut saat kesal terhadap kita.
            “Lo bayangin sekarang, dia anak orang kaya, satu-satunya murid yang punya telepon genggam di sekolah ini, setiap hari di jemput pake sedan, buat ngedapetin perhatiannya lo mau bawa ‘senjata’ apa?” Bias masih memasang muka kecutnya.
            “Cinta.” Mataku beralih memandangnya.
            “Lo inget ngga kata kahlil gibran, “cinta hanya datang saat cinta membutuhkan cinta” saat ini gue membutuhkan itu Yas. Gue lagi membutuhkan cintanya.”
            “Cinta, cinta. Makan tuh cinta sampe lo kenyang! Gue mau ngebangunin lo dari mimpi Fin, kalo terbang jangan ketinggian, kalo nanti lo jatuh, sakitnya dua minggu ngga hilang-hilang.” Kami jadi saling bantah satu sama lain, saling mematahkan argumen satu sama lain. Hingga bel masuk berbunyi dan mengakhiri debat kami.
+++
Dear Ayu...
            saat melihatmu                              seindah      itu sebelumnya.    Indah dari    biasanya
   dengan bandana putih, rambut             dan seperti     kebetulan yang    berkat kau,    aku tau    
terurai panjang      sepunggung, buku     menyenang     kan, aku bisa       kau bukan    bidadari
berjudul “panduan fisika untuk SMA”  melihat itu setiap hari, tepatnya  atau pun       seorang
di tanganmu.              Alismu berkerut                saat istirahat.                 Artis ibu     kota yang        
saat membaca            nya. Semua begitu            perpustakaan                  datang ke    sekolah.
indah, bagiku             belum ada sesuatu           menjadi lebih                 kau adalah Ayu, yang-

pertama kali mengisi hatiku dengan sesuatu y ang bisa membuat orang merasa kuat dan juga lemah disaat yang sama: Cinta.

                                                                                                            From your admire.

            “Ya ampun! Yu, ini orang niat banget bikin suratnya.” Ayu sampai kaget saat menyadari akan hal itu.
            “Astaga Rita! Demen banget sih bikin kaget orang!” Ayu mencubit lengan temannya dengan gemas.
            “Nih, lihat deh, masa susunan katanya ngebentuk nama lo gitu, duh romantis banget!”
            “Rita, jangan kayak anak kecil deh! Lo kan tau gue sukanya sama siapa.” Ayu meletakkan kertas itu di atas mejanya. Pelajaran kosong membuat kelasnya menjadi gaduh oleh kesibukan masing-masing. Ada yang makan, ngobrol, namun ada juga kutu buku yang masih saja belajar.
            “Iya iya gue tau lo udah punya pacar dan dia ada nun jauh di negeri orang. Tapi apa lo yakin kalo dia ngga kepincut cewek lain disana Yu?”
            “Gue yakin ko, kami berdua kan udah saling janji untuk setia.” Ayu menyunggingkan senyumnya.
            “Yah Yu, bisa aja kan dia bohongin lo?”
            “Nih buktinya, surat-surat dari dia masih ada, dia bilang sendiri kok kalo dia ngga selingkuh.” Ayu tidak terima atas tudingan temannya.
            “Yah surat kan bisa aja bohong.” Rita kembali menimpali.
            “Nah itu lo tau, berarti yang nulis surat ini juga pasti Cuma gombal doang, bisa aja kan dia Cuma taruhan sama temennya, kalo bisa dapetin gue terus dia menang gitu. Ah basi!”
            “Iya maaf-maaf, jangan marah dong, lagian gue belum pernah aja ngeliat orang nulis surat cinta sampe segininya.”
            “Udahlah lupain aja, satu-satunya yang harus kita lakukan dengan surat ini adalah...” Ayu beranjak dari tempat duduknya, Rita beringsut mengikutinya dari belakang, Ayu berjalan keluar kelas dan berhenti di depan tong sampah yang berada di sisi taman sekolah.
            “Membuangnya.” Lanjutnya. Ayu berlalu meninggalkan Rita.
+++
            “Gimana hasilnya?” tanya Bias, mulutnya kembali menyunyah siomay. Kantin sekolah padat merayap saat jam istirahat.
            “Nihil.”  Ucapku lemas sambil mengaduk-aduk kuah bakso. Selara makan jadi hilang.
            “Bener kan firasat gue, dia aja ngga tau siapa yang ngirim surat ke dia, kenapa ngga berani sih nulisin nama lo di surat itu? halah pake bahasa inggris segala lagi. payah lo!”
            “Gue udah ngikutin dia ke manapun dia pergi, tapi dia ngga mau tuh ngebahas masalah surat dari gue, dia malah asyik belanja sama temannya.” Aku menghela nafas.
            “Lo gila ya... sampe ngikutin mereka belanja, apa ngga ketauan?” siomay Bias sudah habis, berbanding tebalik dengan bakso-ku.
            “Yah gue pinter lah, kadang ngumpet deket pot bunga, nyamar pura-pura jadi patung, tapi karena gue ngebuntutuin dia, gue jadi tau info baru nih” Ujarku menceritakan kronologis kejadiannya.
            “Info apaan? Kayak di TV aja lo, ada sekilas infonya.” Bias tertawa.
            “Serius Yas, ternyata dia itu udah punya cowok, tapi cowoknya itu ada di luar negeri.”
            “Nah, tuh kan sekarang nambah lagi masalahnya, dia udah punya cowok. Jangan nekat deh!” Bias mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat.
            “Justru itu Yas, gue pasti bisa ngerebut dia dari cowoknya, ngga ada cewek yang tahan sama LDR Yas.” Tandasku penuh semangat, bakso-ku pasti sudah dingin.
            “Pejuang cinta sejati lo emang, salut deh gue sama lo!” Bias bersendawa setelah kenyang dengan makanannya.
            “Tapi gue jadi inget kata-kata si kahlil gibran deh, “cinta hanya datang saat cinta membutuhkan cinta”. Pertanyaannya, emang kita tau kapan kita membutuhkan itu?” rasa-rasanya jarang sekali dia menanggapi buku-buku bacaanku.
            “Maksud lo?”
            “Antara kebutuhan dan keinginan kan beda Fin” Bias kelihatan mulai serius.
            “Gue yakin gue ini butuh ko, bukan ingin.” Aku sudah tak peduli dengan baksonya.
            “Kebutuhan itu tersirat Fin, ngga dirasakan tapi kita harus mendapatkan itu. dalam kasus lo ini bukannya kedengerannya kayak dipaksain yah?”
            “Lo ini sebenernya ngedukung gue apa ngga sih Yas!” air muka ku berubah.
            “Ya ampun, sensitif banget nih anak kayak cewek lagi dapet. Gue ngudukung lo lah pasti, tapi sebagai sahabat, gue kan mesti ngasih nasehat juga.” Bias menepuk pundakku.
            “Pokoknya gue ngga boleh menyerah gitu aja, pejuang cinta itu harus berjuang sampai akhir, apa perlu nih gue keluarin kata-katanya Kahlil Gibran tentang perjuangan cinta?” tanyaku pada Bias yang hanya dijawab oleh punggungnya yang mulai mengecil.
            “Woi Bias, tungguin!” sebagian orang yang ada di kantin melihat kearahku.
+++
            “Sayang... lagi ngapain disana?” telepon antar benua itu baru saja berlangsung, menjadi pelepas dahaga rindu bagi yang sedang masuk kedalam gurun pasir cinta.
            “Lagi belajar Yu, kamu lagi ngapain? Tanya suara diseberang sana.
            “Lagi mikirin kamu, kamu kapan sih ke jakarta?, aku kangen banget tau sama kamu!” Ayu merajuk, ujian terberat hubungan jarak jauh mulai ia rasakan.
            “Aku kan mesti nyelesaikan tugas dulu.” Jawab lelaki itu singkat.
            “Terus kamu ko jarang ngirim surat lagi sih?”
            “Kan aku bilang tadi, aku lagi sibuk, kamu ngerti kan?”
            “Sayang, kata Rita, hubungan jarak jauh itu banyak godaannya, terutama gadis-gadis disana, kamu ngga begitu kan?”
            “Ya nggalah Yu, kamu ngaco deh, aku kan udah punya kamu.”
            “Kok kamu manggil aku nama sih, ngga kaya biasanya?”
            “Loh, nama kamu Ayu kan, ayolah! kita kan bukan orang yang baru pertama kali jadian. Udah dulu yah, aku capek nih!”
            “Iya oke, maaf yah bikin kamu emosi, aku Cuma kangen sama kamu.” Telepon terputus, mata Ayu berkaca, dan lambat laun menganak sungai yang kian deras membasahi pipinya.
Sementara di seberang benua sana.
            “Who’s that darl?”
“Just friend honey.” Jawab pria yang menerima telepon dari Ayu tadi kepada seorang wanita dengan pakaian mini dress yang berjalan menghampirinya sambil membawakan secangkir kopi.
+++
Dear Ayu...
            Pernahkah kau berdiri di tepi sungai ketika malam hari dan saat bulan bersinar cerah? Apa yang kau lihat disana? Jika jawabannya adalah, kau melihat seonggok rembulan berukuran kecil, itulah aku.
Aku memang tak seindah rembulan yang asli, tak secerah rembulan yang sebenarnya. Namun lihatlah... aku lebih dekat denganmu daripada rembulan diatas sana, nun jauh disana.
Semoga kau bisa tidur nyenyak malam ini, tanpa memikirkan rembulan yang jauh dari genggamanmu.
                                                                        Dari: rembulan yang selalu menantimu                                                                                               di permukaan sungai.
             “Lo penasaran ngga sih, siapa yang ngirim surat ini? Puitis abis! jadi gue yang melting bacanya” Rita  tertawa sekaligus mengajukan pertanyaan pada Ayu.
            “Hmm, si kutu buku mana Ta?”
            “Lah, kenapa jadi nyariin dia?” Rita menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
            “pasti Cuma dia yang kalo istirahat ngga keluar kelas, dan yang ngga pernah ikut olahraga karena dia lemah jantung, dia pasti tau siapa yang ngirim surat ini.” Ayu mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kelas: tidak ada.
            “Lo yakin mau ngomong sama dia, orangnya kan ngeselin abis Yu.”
            “Daripada gue penasaran, ayo kita ke kantin.” Ayu menarik lengan Rita.
+++
            “Budi, langsung aja nih, lo pasti tau kan siapa yang ngirim surat ke gue?”
            “Weits, tunggu dulu, gue tau sih siapa orangnya, tapi ini ngga gratis!” jawabnya sambil menyeringai. Menghentikan suapan bakso ke dalam mulutnya.
            “Tuh kan, apa gue bilang, orangnya ngeselin kan?” Bisik Rita di telinga Ayu.
            “Oke, lo mau apaan? gue kasih.” Jawab Ayu dengan muka kecut.
            “Es krim tiga scoup, sama bayarin bakso gue.” Ucap Budi dengan santai, tak peduli dengan muka masam kedua gadis yang sedang berdiri di hadapannya.
            “Ah gila kali lo ya! Pemerasan tuh namanya!” Rita bereaksi setelah lama terdiam.
            “Sssst... oke oke, sepakat! Tapi siapa dulu yang ngirim surat itu?.” Ayu mencoba menenangkan Rita sekaligus membereskan urusannya dengan si kutu buku.
            “Namanya Fino Dharma Suseno, kelas 12 IPS 1.” Ujar Budi lalu kembali mengunyah bakso yang ada di mulutnya.
+++
Dear Fino...
            Sungguh aku tak pandai merangkai kata, namun jika kau ingin tau kepastian itu, kutunggu kau di taman sekolah sore ini. Jangan buatku menunggu.
                                                                                                                                                                                                                                    From: A
            “Tuh kan, gue bilang juga apa Yas!” Bias tercekat sesaat ketika aku selesai membaca surat balasan dari Ayu.
            “Ini beneran si Ayu yang nulis nih? Kok surat lo dibales sih.”
            “Hahaha, jadi orang tuh optimis makanya! Yuhuu.” Walaupun dibungkus dengan amplop putih biasa, tanpa corak dan hiasan serta wewangian, surat balasan itu benar-benar membuatku semangat menjalani sisa pelajaran yang ada hari ini, waktu terasa berlalu begitu cepat. Dan saat bel pulang berbunyi aku langsung melesat menuju tempat yang di janjikan.
            “Ehemm, Ayu...” gadis yang kupanggil menolehkan kepalanya, gerakan itu tiba-tiba saja melambat, aku bisa menikmati pemandangan itu lebih lama dari biasanya. Iya lalu berdiri dan menghampiriku.
            “Oh, jadi elo yang selama ini ngirim surat ke gue!” suaranya meninggi. Merusak semua imajinasiku dan membangunkanku dari gerakan lambat tadi.
            “Hmm, iya...”
            “Kenapa ngga bilang langsung aja? Takut yah? Masih aja pake surat, kenapa ngga pake handphone? Oh iya gue lupa, lo pasti ngga punya kan. Kenapa lo suka sama gue? Karena gue cantik? Setelah tau gue punya pacar, lo masih juga ngirim surat ke gue, ngga tau malu banget lo!” aku tercekat, rongga pernfasanku seakan menyempit, sulit sekali rasanya bernafas saat ini. Inikah rasanya jatuh setelah terbang begitu tinggi?
            “Hmm, gue.. anu.. gue Cuma suka aja sama lo. Dan gue bener-bener ngga nyangka kalo reaksi lo bakalan kayak begini.” Aku mencoba menyusun kalimat secepat mungkin, memaksa otak bekerja keras setelah jatuh dari tingginya khayalan.
            “Lo pasti ngebuntutin gue kan? Kampungan banget tau ngga cara lo. Gue tegasin yah sama lo. Gue udah punya pacar dan gue ngga suka sama lo!” bayangan Ayu yang memakai bandana putih sambil membaca buku fisika itu perlahan sirna, tergantikan dengan sayatan kata-katanya yang membuat sesak baik secara langsung ataupun tidak. Ayu beranjak pergi setelah puas melucutiku dengan kata-katanya, membuatku malu walaupun tak ada satu orang pun yang melihatku di sana. Aku melangkah menuju bangku taman, mencoba mencerna semuanya.
+++
            Aku kembali menarik kertas putih tersebut, setelah berfikir lama, kuputuskan untuk mengakhiri semua tanpa surat. Menghancurkan semua mimpi yang terlanjur ada walaupun baru sebatas pondasi. Semuanya harus ku akhiri!
+++
            Hari itu sedang di adakan lomba antar kelas, dimana semua kelas di adu dalam berbagai olahraga, dari mulai sepak bola, volley, bulu tangkis, sampai tenis meja. Namun aku sama sekali tak tertarik dengan semua itu. tujuanku dari rumah sudah bulat: berbicara pada Ayu.
            “Mau ngasih surat lagi?” ucapnya saat aku baru saja muncul dihadapannya.
            “Bukan kok, gue Cuma mau ngomong sesuatu aja.”
            “Ngomong apa?”
            “gue mau minta maaf kalo udah buat lo emosi kemaren, gue juga minta maaf soal surat-surat gue yang terkesan memaksa. Gue baru sadar satu hal, bahwa segala hal yang di paksakan pasti hasilnya ngga bagus, apalagi masalah hati dan cinta. Semoga pria yang ada di luar negeri sana bisa membuat lo bahagia.” Aku buru-buru meninggalkannya, karena aku yakin dia pun takkan tahan melihat wajahku lama-lama di dekatnya.
             “Fino!” Bias memanggilku, dia bermain cukup hebat saat mewakili kelasku dalam pertandingan sepak bola tadi.
            “Wih, gila banget lo main tadi, hattrick!” aku mengahmpirinya lalu memukul-mukul pelan lengannya.
            “Hahaha, siapa dulu dong BIAS!” dia menepuk dada.
            “Gue mau lanjut babak kedua dulu nih, jangan kemana-mana lo, dukung gue oke?”
            “SIP BOS!” ujar ku mantap.
            Beberapa saat setelah Bias meninggalkanku, seseorang menepuk bahuku dari belakang.
            “Fino kan..?” seorang gadis muncul entah darimana, walaupun dia teman satu sekolah, namun aku jarang sekali melihatnya. Dan pemandangan itu terjadi lagi, gerakan lambat itu berlangsung lagi.
            “Hmm kok lo tau nama gue?” aku terbata bertanya.
            “Ya karena gue cari tau tentang lah.” Dia tertawa, suara tawa seorang gadis untuk pertama kalinya setelah kemarin telingaku dibuat panas, juga oleh seorang gadis.
            “Gue Cuma mau balikin ini.” Dia menyerahkan dua pucuk surat, surat yang amat sangat aku kenal.
            “Surat ini terlalu bagus buat tempat sekotor tong sampah.” Kali ini dia tersenyum, dan aku melihat senyum itu dari jarak yang cukup dekat.
            “Gue Fino, dan lo...?” aku mengulurkan tangan.
            “Gue Mariska, kelas 12 IPS 3. Jadi kita teman nih?” aku menjawabnya dengan anggukan kecil lalu melangkah menuju tempat sampah yang ada di pinggir lapangan.
            “Lho kok dibuang suratnya?” Mariska mengerutkan kedua alisnya.
            “Hmm, sekarang tanggal berapa ya?”
            “1 Februari, kenapa?” Mariska kembali bertanya. Dia semakin terlihat cantik saat sedang penasaran.
            “Hmm ga apa apa, Cuma nanya aja.” Kali ini giliranku yang tersenyum .
---the end---